Serasa Menggunakan Tiga OS
Siapa sangka dan tak pernah terkira kalau iseng-iseng bisa memberikan pengalaman yang cukup mengesankan bagi lepi kesayangan. Untuk menjadi kreatif ternyata tidak perlu berpikir muluk-muluk setinggi langit. Untuk berinovasi juga tidak perlu kursus dulu ke luar negeri. Cukup dari rumah atau bahkan dari ruang tidur, Anda pun bisa mulai merakit kreatifitas hingga membuahkan hasil yang memuaskan bagi selera Anda.
Seperti itulah yang saya alami beberapa waktu lalu setelah Open Source Linux Mint 9 tertanam di tubuh mungil Pavilion dv2 dan kiriman Lucid Lynx Desktop Edition tiba dengan selamat di kediaman. Saya yang berkeinginan merupah tampilan OS yang lebih menantang, tenang dan elegan, berupaya mengutak-atik dan menggabungkan beberapa aplikasi freeware dari rekan-rekan pecinta Open Source. Alhasil, tampilan pun berubah layaknya sebuah gedung yang indah menjulan ke langit. Mengesankan dan saya sendiri hampir tidak percaya, ternyata Open Source juga bisa dan bahkan melebihi yang berbayar.
Kisah ini berawal dari Ibunda dan Adikku cewek yang mengeluh karena bingung menggunakan Ubuntu Isadora. Terang saja, sebelumnya saya memang menggunakan OS Microsoft Windows pada komputer desktop di rumah yang sudah udzur, sehingga orang rumah terbiasa menggunakan Windows. Belum lagi pembelajaran di sekolah-sekolah ternyata masih menggunakan OS tersebut, sehingga siswa juga menganggap bahwa Operating System cuma itu. So ayolah rekan-rekan, mari kita giatkan OS Open Source untuk pendidikan agar pelajar bisa lebih bebas berekspresi dan berkarya.
Setiap kali Adik pakai nich laptop pasti ngomel-ngomel sendiri karena bingung yang terkadang mengganggu juga saat lagi asyik-asyiknya bermimpi. Dari situlah saya mencoba menggabungkan theme/tema yang ada di dunia maya untuk membuat tampilan desk layaknya OS Windows agar yang masih awam bisa lebih mudah dalam beradaptasi.
Mulailah saya berburu kesana-dimari untuk mencari konfigurasi dan modifikasi tampilan yang cocok dan mudah dioperasikan. Beberapa file yang berukuran lumayan juga saya download, akan tetapi masih juga belum cocok dan sesuai selera. Pemburuan terus berlanjut menuju thread-thread di forum khusus Ubuntu yang membahas tampilan tema. Satu per satu file yang disarankan oleh beberapa member forumpun saya download, tapi tetap saja masih kurang. Emang dasarnya orang yang lagi penasaran dengan baru ya terus aja nyari sampai ketemu.
Suatu ketika saya tertarik dengan sebuah postingan yang mengubah tampilan Ubuntu menjadi persis seperti Windows 7, langsung saja saya sedot dengan ukuran yang lumayan besar juga sich. Tapi tak apalah, beberapa jam saya lalui hingga download selesai dan langsung deh di pasang. Alhasil, temanya kagak kompatibel dengan versi sekarang, hanya support untuk Ubuntu 9.4 ke bawah. Waduh..waduhh… gagal maning deh…
Kata orang kalau mau sukses tidak boleh mudah menyerah, jadi ya saya ikuti saja dan nggak mau menyerah sebelum bisa he he he. Saat itu entah lagi mujur atau memang karena sudah waktunya ketemu kali ya ha haha… ada file tema yang saya rasa unik juga sich. Yup, tampilan theme untuk mengubah Ubuntu menjadi seperti Apple Mac OSX. Memang beda sich dari tujuan awalnya, tapi nggak ada salahnya kalau mencoba dulu. Tapi beberapa saat kemudian nemu lagi tampilan yang mengubah Ubuntu layaknya Windows Vista, ya udah langsung saya sedot saja itu filenya. Sembari menunggu kedua file selesai di dowload, seperti temen-temen yang lain, pastinya saya buka akun sosial networking lah. Mulai dari update status Twitter and membalas beberapa komentar, sampai komen-komenan sama teman di Facebook.
Saking asyiknya nich, kagak terasa dua file tadi udah di download dan selesai tanpa sepengetahuan saya. Ketika ingat, saya sedikit bingung karena default tempat penyimpanan Download browser Mozilla Firefox sempat saya rubah beberapa waktu lalu. So, acak-acak beberapa folder deh buat nemuin tu file unduhan.
Nah lho…ketemu juga akhirnya loe disini dan langsung saya pindahkan ke desktop folder dan ekstrak satu per satu filenya. Alhamdulillahnya ada file readme, jadi lebih mudah dan cepat untuk memasang tema itu tadi walau dalam bahasa Inggris tapi tetep aja mudah dipahami.
Petunjuk installasipun saya ikuti dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, satu tema Windows Vista sudah berhasil terinstall. Ada perintah untuk logout dari sesi sekarang agar perubahan tema dapat terkonfigurasi ya saya ikuti saja. Setelah login lagi, tha..tha… Ubuntunya berubah jadi Windows Vista dan boleh percaya boleh juga enggak, ikon menu kecilnya juga ikut berubah persis seperti aslinya lho…Jadi kalau adik or Ibu mau pakek nich lepi, tak rasa udah ndak begitu bingung deh.
Tak cukup disitu saja, saya masih melanjutkan menginstall paket tema Apple Mac OSX yang tadi sudah di download. Step by step saya ikuti hingga selesai dan seketika itu juga tampilan ikon-ikon baik folder, aplikasi, file kategori dan masih banyak yang lainnya juga, langsung berubah menyerupai tampilan Mac OS. Gila, semudah inikah untuk merasakan tiga operating system dalam satu komputer tanpa harus multi boot? Ternyata dunia Open Source memang beda dan mengesankan, selain juga penuh dengan tantangan.
Biar perubahan yang telah dikonfigurasi lebih sempurna, saya coba restart saja Osnya dan setelah masuk lagi…wawww….mantab bro…maknyus pokoknya. Buat yang penasaran saya saranin untuk segera mencoba dan rasakan nuansa tiga OS dalam satu PC mu. It real man, trust me!
Opss…!! sepertinya masih ada yang kurang nich, masih kurang sidebar/gadget biar lebih keren dan elegan gitohhh…. Pemburuan pun saya lanjutkan untuk mencari aplikasi sidebar/gadget khusus Ubuntu Isadora atau Lucid, karena memang Isadora berbasis pada Lucid Lynx sehingga kalau tidak ketemu yang Isadora, yang Lucid juga mau kok.
Ketemu sudah yang dicari-cari, Screenlets itulah nama aplikasinya. Untuk Anda yang kepingin mencoba juga, bisa membuka terminal dan ketikkan $sudo apt-get install screenlets. Insya Allah paket beserta ketergantungannya juga akan langsung terinstall setelah memalui proses download terlebih dahulu. Oh ya sekedar berbagi, untuk mirror saya menggunakan http://kambing.ui.ac.id karena saya kecepatan downloadnya lumayan dibanding yang lain meskipun saya berada di Solo.
Setelah selesai semua dan terkonfigurasi semua, maka dengan ini pula saya sampaikan bahwa kisah saya juga telah selesai untuk menikmati tiga OS dalam satu wadah. Dan berikut ini saya lampirkan tampilan hasil akhir dari Pavilion Dv2 saya yang begitu elegan dan menyenangkan bagi saya.
Semoga bermanfaat dan Salam Kreatif.
Popularity: 53% [?]









